Prisoner | 1

prisoner

Hanya kisah antara seorang tahanan dan penjaganya.

Chanyeol | YoonA

[ Sehun ver. ]

Dengan ending yang berbeda.

.

.

Pemuda itu tersentak ketika pintu didobrak dengan paksa. Menampilkan dua orang pria berbadan besar dengan seragam polisi yang dikenakannya membawa seorang gadis dengan tangan terborgol ke belakang.

“Bawa dia ke kamar huni paling bawah.”

.

.

Mereka berjalan menyusuri beberapa blok dengan tenang. Kelewat hening dan sunyi karena tidak satupun dari mereka yang berniat membuka mulut untuk memulai pembicaraan. Lagipula tidak ada yang perlu dibicarakan. Pemuda itu—Park Chanyeol—diam-diam memperhatikan gadis yang akan menjadi penghuni sel paling bawah—kamar huni yang ditempati oleh pembunuh paling sadis sebelumnya—ketika mereka sampai disana nantinya.

Chanyeol menghentikan langkahnya, membuat gadis yang berada dalam genggamannya ikut terhenti.

“Siapa namamu?”

Tidak ada jawaban. Gadis itu bergeming.

“Tak pernah ada tahanan secantik dirimu sebelumnya, karena wajah mereka akan menjadi jelek karena narkoba. Dan setelah melihatmu, aku jadi harus mengubah persepsiku beberapa kali. Jadi, siapa namamu? Apa kasusmu? Narkoba dan pembunuhan sepertinya tidak akan ada dalam opsi.”

Chanyeol tetap melanjutkan kalimatnya meskipun dirinya tahu bahwa gadis itu tidak akan membuka mulut atas pertanyaannya.

“Baiklah,” Chanyeol terkekeh pelan menyadari kebodohannya. “Kau akan ditahan sendirian disini, Nona. Sebelumnya, ada Si Bajingan Woobin yang menempati sel ini. Jadi, kita harus melanjutkan perjalanan melewati beberapa anak tangga dengan nuansa suram ini untuk sampai di tempat—”

“Kau terlalu banyak bicara.”

“—tujuan.”

Lagi-lagi, Chanyeol terkekeh pelan menyadari kebodohannya. Pintu pun terbuka, dan Chanyeol mempersilahkan gadis itu untuk masuk terlebih dahulu.

“Kau sangat menarik.”

.

.

Tidak tega.

Itu yang Chanyeol rasakan ketika akan meninggalkan tahanan cantiknya di sel paling bawah ini. Kepalanya menoleh pelan, mendapati gadis itu tampak biasa saja ketika akan ditinggalkan di tempat yang suram ini.

Apa kau baik-baik saja?

“Kau akan sendirian disini.”

“Ya, aku tahu.”

Aku ingin menemanimu.

“Aku akan mengunjungimu seminggu sekali. Tidak ada fentilasi, dan tidak ada sarana yang memadai disini. Kuharap kau memiliki fisik dan mental yang kuat—”

“Pergilah.”

“—disini,” Chanyeol tersenyum kecil, yang tentu saja tidak dapat dilihat oleh gadis itu karena minimnya cahaya. “Persiapan untuk makan malammu nanti akan dikirimkan olehku. Baiklah, sampai jumpa.”

Aku tidak bisa menjamin kau akan baik-baik saja disini…

“Tuan Penjaga?”

Cegah aku, suruh aku menemanimu disini.

“Ya, Nona?”

Chanyeol dapat melihat gadis itu mengulas senyum untuk pertama kalinya yang mampu membuat dirinya tertegun dan terpesona.

“Namaku Im YoonA jika kau ingin tahu.”

Nama yang cantik, seperti orangnya.

“Namaku Park Chanyeol, aku seorang sipir disini. Tetapi sepertinya istilah penjaga akan terdengar lebih pantas.”

YoonA terkekeh pelan,
Kemudian rautnya kembali menjadi dingin.

“Aku hanya menunggumu saat makan malam tiba. Jadi, pergilah.”

…karena Si Bajingan Woobin yang sebelumnya menempati tempat ini mati karena kekurangan oksigen.

.

.

Sipir tampan itu telah berhasil menaiki tangga dan bertemu dengan oksigen yang setidaknya cukup untuk ia hirup. Sel yang berada di paling bawah itu sangatlah pengap, dirinya jadi mengkhawatirkan tahanan cantiknya yang berada disana seolah baik-baik saja.

Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul tujuh, dan sebentar lagi makan malam akan tiba. Ia harus menemui tamping dapur sekarang juga.

Langkahnya begitu tergesa-gesa ketika melewati blok narkoba.

“Hei!”

Chanyeol menoleh pelan, “Apa?” ujarnya dingin.

Napi tersebut terkekeh karena sikap sang sipir yang begitu menyebalkan menurutnya.

“Aku melihatmu membawa seorang gadis menuju kamar huni paling bawah. Dia masih berstatus sebagai tahanan ‘kan? Kenapa kau membawa dia kesana?”

“Mana kutahu!” jawab Chanyeol dengan sedikit membentak. “Aku hanyalah seorang sipir disini.”

“Justru karena kau seorang sipir disini kau berhak tahu segalanya tanpa diberi tahu, apalagi mengenai tahanan cantik itu,” sahut seorang napi lainnya. “Aku tahu kau penasaran. Maka dari itu kami ingin membantumu dengan melihat berkas yang tadi ditaruh secara sembarang oleh petugas kepolisian di dekat pintu. Sepertinya itu berkas milik tahanan cantik yang kau bawa beberapa jam yang lalu.”

Chanyeol mengernyitkan dahinya.

“Kau ingin membohongiku? Hah! Lucu sekali. Apa gunanya aku mempercayai napi seperti kalian?”

“Kami memang napi,” jawabnya. “Tetapi kami masih memiliki hati nurani untuk membantumu yang penasaran. Dasar sipir tak tahu terima kasih!”

Pemuda itu mengedikkan bahunya tak acuh.

“Terserah kalian!”

Dasar munafik! umpat salah satu seorang napi ketika melihat Chanyeol yang ternyata mengambil berkas tersebut tanpa merasa bersalah.

.

.

Chanyeol membuka berkas tersebut secara sembunyi-sembunyi.

name YoonA, Lim
age 21
case—

Pemuda itu langsung menutup berkasnya dan menghela napas berat. Lagi-lagi, rasa tidak tega melingkupi benaknya. Tetapi, pendengarannya menangkap sipir-sipir lain tengah berbincang di balik tembok tempat ia menyandar sekarang.

“Kau tahu Im YoonA? Tahanan kemarin sore. Kudengar, dia membunuh seluruh anggota keluarganya dengan sadis ketika pesta ulang tahun adiknya yang ke-10.”

“Ah, belum ada proses lebih lanjut mengenai hal itu.”

“Lalu?”

Chanyeol tertegun.

“Tetapi dia masih memiliki hubungan darah dengan Woobin.”

.

Advertisements

4 Replies to “Prisoner | 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s