Healer

b43533_dc6134ca32ff4158b81350e7d59074dfmv2

Aku memang ditakdirkan untukmu, melalui beberapa hal.

Chanyeol, YoonA | Wendy, Taeyong

poster by styleran @ artfantasy

.

.

Taeyong mendengus kesal. Sedari tadi Nunanya yang cantik tidak mengubrisnya, bahkan menganggap dirinya tidak ada! Oh ya ampun, apakah ponsel dengan logo apel tergigit itu lebih tampan dari wajahnya?!

Nuna, aku benar-benar tidak tahu apa maksud perkataan Chanyeol Seonbaenim tadi pagi. Lagipula ini adalah hari keduaku masuk sekolah dan resmi menjadi bagian dari Mansivell, setidaknya bantulah aku untuk mengerjakan maksud Chanyeol Seonbaenim..”

“Memangnya apa yang dia katakan?”

Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Disini tertulis untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat paling romantis yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun, menyatakan perasaan pada salah satu anggota OSIS dengan bahasa yang aneh, yang terakhir—”

YoonA mencoba untuk tidak merampas dan merobek kumpulan kertas yang dipegang oleh adiknya saat ini. Jelas-jelas Chanyeol mengada-ngada, pasti lelaki itu memberikan tugas yang sangat berbeda pada adiknya. Ketua OSIS brengsek! umpatnya.

“Lebih baik kau bakar saja kumpulan kertas tak berguna itu, dan juga kau tak perlu mengerjakannya.” YoonA mengambilkan sebuah korek api di laci nakas kemudian memberikannya pada Taeyong, “Kau hanya perlu berangkat bersamaku besok, untuk menemui Chanyeol Seonbaenim.”

Setelah berkata seperti itu, YoonA berjalan meninggalkan Taeyong. Ah, jangan lupakan ponsel dengan logo apel tergigit yang lebih tampan dari wajah adiknya.

Taeyong menggaruk pipinya, “Wah.. kenapa dia berubah lagi menjadi sangar?”

.

.

YoonA merasa risih karena sedari tadi adiknya itu bersembunyi dibalik bahunya. “Apa yang kau lakukan, Taeyong? Kita tidak sedang berada di kandang serigala!”

“Berada di tempat perkumpulan Seonbae-seonbae sama saja dengan kandang serigala menurutku. Kau benar-benar akan menemui Chanyeol SeonbaenimNuna?”

Gadis itu tak mengubris perkataan Taeyong dan lebih memilih untuk berjalan cepat mencapai tujuannya.

Park Chanyeol berada disana, diambang pintu dengan beberapa adik kelas perempuan tingkat dua yang mengelilinginya bersama dengan temannya yang tampan itu—Oh Sehun. YoonA mencoba untuk menerobos, rupanya mereka-mereka bersikeras untuk tetap berada didekat Chanyeol. Hingga salah satu dari mereka menyadari keberadaannya, situasinya berubah menjadi lebih ricuh.

“YoonA Seonbaenim, maaf. Apakah kami memblokade jalan?” ujar salah satu dari mereka diketahui bernama Seulgi.

“Aku hanya ingin menemui Park Chanyeol, bisakah kita bicara?”

“UWAAAAH!”

“KYAAAAA!”

Dan YoonA bersumpah untuk tidak lagi menemui seorang Park Chanyeol dalam keadaan seperti itu.

.

.

“Ada apa?”

Taeyong merasa bingung ‘apa’ hubungan Seonbae ini dengan Nuna-nya. Bahkan mereka sempat berciuman cukup lama hingga membuatnya jengah.

“Aku tahu adikku mendapatkan tugas berbeda dari yang lain, tapi kau tak perlu mempermainkannya. Cukup hajar dia sampai babak belur dan setelah itu aku sangat berterima kasih padamu,” ujar YoonA seraya melirik adiknya dengan sinis.

Chanyeol terbahak kemudian menilik Taeyong dari atas sampai bawah, “Oke, seperti yang kau dengar ‘kan? Aku telah mendapat izin untuk menghajarmu sampai babak belur, boy,” Ia kembali menatap YoonA, “Sebenarnya aku juga memberi tugas yang sama pada sepupuku, jadi aku hanya memberi tugas tersebut pada dua orang. Baiklah, Im Taeyong. Kau boleh pergi.”

Buru-buru Taeyong membungkuk dan berlari meninggalkan Seonbae serta Nuna-nya.

“Aku tidak salah mengenali adikmu, karena dialah yang paling tampan diantara peserta-peserta lainnya.”

“Loh? Sepupumu itu?”

Chanyeol mengusap tengkuknya, “Bukan sepupu sih, dia adik dari teman Sehun—Son Naeun, namanya Son Seunghwan. Dia perempuan.”

“Cantik?” Chanyeol tertawa mendengar nada kecemburuan dari kekasihnya—ralat, calon kekasih.

Tangannya membelai pipi YoonA dengan lembut, kemudian mengecup bibirnya pelan, “Kau jauh lebih cantik darinya. Omong-omong, nanti malam jadi?”

“Aku tidak berjanji, meskipun ayah dan ibu sedang berada di negeri orang, aku masih harus membantu Taeyong dalam seminggu. Kau tahu sendiri ‘kan adikku masih terpengaruh dengan didikan semasa SD-SMP? Apalagi dia tidak mengikuti organisasi apapun termasuk kepanduan.”

Chanyeol tersenyum tipis. “Aku mengerti, dan terima kasih untuk yang tadi..”

“Apa?”

“Ciumannya.”

Oh itu..” dan Chanyeol mendapati YoonA dengan pipi bersemu.

.

.

Tubuh Taeyong bergetar hebat dengan keringat yang bercucuran membasahi baju seragam lamanya. Beberapa uluran tangan mencoba meraih tangannya untuk berkenalan. Tidak, ia tidak bisa.

Dirinya mengidap sebuah phobia yang entah apa namanya. Ketakutan terhadap perempuan cantik—intinya perempuan, kecuali Nuna dan ibunya.

“Sombong sekali kau. Jika tidak ingin berjabat tangan denganku, ya sudah! Perkenalkan, namaku Jung Chaeyeon.”

“Aku Yehana.”

“Kim Yeri! Kalau boleh tahu, namamu siapa ya?”

Laki-laki itu mendongak, hanya tiga yang memperkenalkan diri, sedang yang lainnya hanya menatap dirinya bingung serta aneh. Ah, mungkin karena reaksinya yang tidak biasa tadi.

“A-aku, aku..”

“Kau gagap?” tukas Chaeyeon.

“T-tentu tidak! Im Taeyong!”

Ketiga gadis tersebut mengangguk paham, kemudian diikuti dengan lainnya yang hanya mendengarkan saja. Penglihatannya mencari-cari sosok yang sejenis dengannya. Nihil, tidak ada. Seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Taeyong, Yehana melangkah lebih dekat.

Gadis itu mengernyitkan dahi melihat Taeyong yang tampak sangat ketakutan, “Kami tidak akan memakanmu kok. Jumlah murid di kelas ini ada dua puluh, hanya ada tiga laki-laki. Kau, Jung Jaehyun, dan Chittapon Leechaa?”

“Leechaiyapornkul,” sahut Yeri membenarkan.

“Ya! Itu! Jangan heran, dia orang Thailand. Kami tahu karena kami pernah satu kelas ketika SMP.”

Taeyong tidak peduli. Dia semakin bingung dan mual. Para perempuan ini memblokade jalannya menuju pintu untuk melarikan diri. Menyusahkan sekali! gerutunya dalam hati.

Dan—

“YO, GUYS! PERKENALKAN, NAMAKU SON SEUNGHWAN! AH, TIDAK. PANGGIL SAJA AKU WENDY SON KARENA AKU SEORANG CANADIAN DENGAN SEDIKIT DARAH KOREA! FOR YOUR INFORMATION, SON NAEUN ADALAH UNNIKU!”

Sialan. Apa-apaan ini?!

.

.

“Dia gemar fotografi ya? Kudengar dia pernah memenangkan sebuah tropi dalam ajang kontes foto di Amsterdam beberapa tahun lalu.”

YoonA mengangguk membenarkan pernyataan yang disampaikan oleh Chanyeol, “Media massa tidak membuatnya, hasil manipulasi yang mereka inginkan tidak berhasil begitu Taeyong mendaftarkan diri menjadi peserta,” imbuhnya.

“Tidak menyapaku, hm?” itu Sehun, yang tiba-tiba merangkul bahu YoonA dengan erat. Gadis itu mendengus kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Sehun.

“Puas?”

Sehun terkekeh, “Congrats untuk adikmu yang berhasil menduduki peringkat pertama penerimaan siswa baru Mansivell! Kakak-beradik dengan kualitas otak yang tidak jauh beda. Aku bangga padamu, sayang!”

“Harusnya kau mencari gadis lain, bodoh! Oh Hayoung dari kelas dua, misalnya. Menyebalkan!” Chanyeol mencoba melepaskan tangan YoonA yang melingkari pinggang Sehun.

BRAK!

Tiba-tiba pintu terbuka lebar, membuat beberapa pasang mata yang berada di kelas tersebut menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Beruntung sedang jam kosong.

Nuna..”

Itu Im Taeyong—adik kesayangan YoonA, berdiri dengan seragam yang basah disana. Dengan cepat, gadis itu membawa adiknya keluar. Disusul oleh Chanyeol dan Sehun yang menatapnya bingung.

.

.

Chanyeol menyarankan untuk membawa Taeyong ke ruang OSIS, bukan kesehatan. Dan tentu saja sangat mudah karena dia adalah ketuanya.

“Ada apa dengannya?” tanya Sehun ketika melihat Taeyong—adik YoonA yang tampak begitu lemas.

“Sebenarnya Taeyong mengidap Caligypnephobia—ketakutan terhadap perempuan cantik. Dia akan berkeringat dingin, mual, dan gemetar jika berada disekeliling perempuan yang tak dikenalnya begitu lama. Atau bahkan lebih parah, dia bisa pingsan.”

“Berarti, kau tidak termasuk cantik, ya?”

Mendengar itu, YoonA mencubit pinggang Sehun amat keras hingga lelaki berkulit pucat itu meringis kesakitan, “Ya! Kau bisa kutuntut ke pengadilan, bodoh!”

Hah, masih ada saja lelaki berotak dangkal sepertimu!” cibir YoonA.

“Jika dia mengidap phobia aneh itu, bagaimana dengan sekolahnya dulu? Menerapkan sistem homeschooling ‘kah?” tanya Chanyeol mencoba menyela perdebatan antara Sehun dan calon kekasihnya—YoonA.

“Tidak, dia bersekolah di School Boys. Sebenarnya disana menerapkan sistsm militer, tetapi adikku memiliki tempat spesial jadi begitulah..”

“Jika aku memiliki phobia seperti itu, mungkin aku akan memaksakan diri. Sia-sia aku hidup jika tidak bisa berdekatan dengan gadis idaman secantik YoonA. Benar ‘kan?” goda Sehun yang hanya dibalas pukulan ringan oleh YoonA.

Chanyeol yang melihat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Sahabatnya itu memang buaya, dan juga, dirinya tidak bisa menyalahkan. YoonA bukanlah kekasihnya, melainkan hanya sebatas calon—itu pun jika ia benar-benar diterima nantinya.

N-nuna?

Gadis itu terkesiap, hampir saja dia melupakan Taeyong! “Ada apa?”

“Bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa ‘kan? Apakah ada yang sakit? Katakan padaku!” seru Sehun dan Chanyeol bersamaan.

Taeyong meringis, kemudian kembali menatap Nunanya. “Teman sekelasku kebanyakan perempuan. Bahkan yang sejenis denganku hanya ada tiga, dan aku termasuk dalam hitungan. Tidak mungkin aku memaksakan diri ‘kan? Guru-guru pasti akan menganggapku freak dan abnormal,” jelasnya.

YoonA terdiam. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada adiknya itu. Tetapi, mau bagaimana lagi? Ini bukanlah tempat sekolahnya yang dulu—School Boys.

“Tidak ada kata spesial untuk bersekolah di Mansivell. Kau tidak bisa memesan tempat khusus seperti dulu. Beradaptasilah dengan lingkunganmu yang baru, Taeyong. Paksalah dirimu meskipun berakhir pingsan. Kau harus terbiasa. Harus,” tegas YoonA.

“Ini sangat berat, Nuna,” ujarnya gusar.

“Bagaimana dengan satu perempuan lagi? Agar kau terbiasa nantinya. Kebetulan teman Sehun memiliki adik perempuan. Sekelas denganmu, kurasa,” celetuk Chanyeol.

Jangan-jangan gadis berisik tadi, batin Taeyong menerka-nerka.

“Siapa, Seonbae?

“Son Seunghwan.”

Advertisements

2 Replies to “Healer”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s